Senin, 09 November 2009

Tembok Berlin setelah 20 Tahun

Pekan ini, dunia merayakan 20 tahun ambruknya tembok berlin, yang pernah menjadi symbol kekejaman dan permusuhan antarmanusia.
Pengaruh ambruknya tembok berlin sungguh luar biasa bagi sejarah kemanusiaan. Sekedar kilas balik, runtuhnya tembok berlin tanggal 9 November 1989 tidak hanya mengubaha sejarah bangsa jerman tetapi juga dunia.
Runtuhnya tembok yg didirikan penguasa komunis jerman timur tahun 1961 tidak hanya mendorong proses reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur yg memuncak tanggal 3 Oktober 1990, tetapi juga memicu kehancuran Uni Soviet di pengujung tahun itu juga.
Sejarah akhirnya mencatat, kehancuran Uni Soviet mendorong berakhirnya perang dingin. Permusuhan ideologis antara komunisme dan kapitalisme pun berakhir.
Namun, bagaimana kondisi dunia setelah tembok berlin dan perang dingin berakhir? Tidak banyak berubah karena dunia masih terus dilanda ketegangan dan permusuhan, meski dalam pola yang lain.

Perlu dikemukakan, sisa perang dingin masih terdapat di semenanjung korea dan diperburuk dengan program senjata nuklir yang dibuat oleh Korea Utara.
Tetapi menjadi pertanyaan pula bagaimana perkembangan ideologi dunia selanjutnya. Ketika perang dingin berakhir, liberalisme-liberalisme diyakini sebagai pemenang dalam pertarungan melawan sosialisme-komunisme. Namun, sekitar dua dasawarsa setelah perang dingin berlalu, liberalisme-kapitalisme justru yang kedodoran.
Rupanya kematian sosialisme-komunisme membuat liberalisme-kapitalisme kedodoran limbung karena kehilangan lawan tanding. Belakangan ini semakin kelihatan pula liberalisme-kapitalisme mengalami kegagalan bahkan dituduh sebagai penyebab krisis keuangan dunia saat ini. Krisis itu berawal di AS sebagai Negara adidaya yg berlandaskan liberalisme-kapitalisme.
Perkembangan ini sangatlah menarik dari dialektika sejarah. Setelah komunisme ambruk dan kapitalisme kedodoran, tampaknya akan muncul ideology baru sebagai sintesis. Belakangan ini orang semakin gencar memperbincangkan pengembangan neososialisme, yang memberikan peran besar kepada masyarakat ataupun pemerintah. Kerja sama masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan dalam prose’s pembangunan.
Namun, menjadi pertanyaan, apakah neososialisme mampu memberikan jawaban terhadap upaya menciptakan dunia yang lebih adil. Waktulah yang akan menjawabnya. Hanya bagaimanapun sangatlah mendesak memperbaiki tatanan dunia yang tak adil antara Negara kaya dan miskin.
Ketidakadilan itu telah diperburuk oleh suasana tertekan karena masalah global warming, kehancuran lingkungan, bahaya penyakit, krisis energi, dan kelangkaan pangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar